Kundalini yang lebih Tinggi dan Kundalini yang lebih Rendah

image

Dalam kutipan berikut dari buku “The Doctrine of the Bhagavad Gita” oleh Pandit Bhavani Shankar murid dari Master Koot Hoomi, disampaikan konsep yang tampaknya masih belum diketahui oleh sebagian besar para pencari spiritual hari ini. Hal ini adalah perbedaan antara Kundalini yang lebih Tinggi dan Kundalini yang lebih Rendah.

Dalam “Theosophical Glossary” H.P. Blavatsky menjelaskan bahwa Kundalini adalah “Kekuatan hidup; salah satu Kekuatan Alam; bahwa kekuatan tersebut menghasilkan cahaya tertentu bagi mereka yang mencari perkembangan spiritual dan kemampuan clairvoyant. Kekuatan ini hanya diketahui oleh orang-orang yang berlatih konsentrasi dan Yoga. ”

Yoga yang disahkan dalam Theosophy adalah bentuk Raja Yoga yang digabungkan dengan Jnana Yoga dan tidak pernah jenis-jenis latihan Yoga yang begitu populer saat ini, seperti Hatha Yoga dan Kundalini Yoga. Theosophy jelas memperingatkan terhadap jenis latihan dan metode termasuk jenis Pranayama (penahanan dan pengendalian nafas) dan dikatakan bahwa semua Master dengan bulat menentang itu.

“HPB menggambarkan Kundalini sebagai “kekuatan elektro-spiritual yang berapi-api,” “kekuatan Fohatic” yang mendasari segala sesuatu yang terlihat dan tak terlihat. Dalam “The Voice of the Silence” itu disebut “The World’s Mother,” Bunda Dunia dan Bunda Semesta.
T. Subba Row mengatakan Kundalini adalah “kekuatan atau daya yang bergerak di jalur melengkung. Ini adalah Prinsip Universal yang mewujudkan diri dimana-mana di alam semesta. Daya ini adalah dua kekuatan besar yang saling menarik dan menolak. Listrik dan magnet hanyalah manifestasi dari itu. “… Kundalini adalah kekuatan aktif dari Universal Logos. Ia adalah Bunda yang memanifestasi Semesta. Ia adalah Kehidupan universal yang berada di mana-mana, Api universal, Listrik universal…

“Perlu ditambahkan di sini, bagaimanapun, bahwa praktek yang dikenal sebagai Kundalini Yoga berpotensi sangat berbahaya di semua tingkatan – fisik, psikologis, dan spiritual – dan Theosophy yang selalu memperingatkan orang yang berusaha untuk melakukan hal-hal tertentu dengan kekuatan Kundalini yang ada di dalam diri mereka. Para Master telah menyatakan dengan tegas bahwa Kekuatan ini bahkan dapat dengan mudah membunuh. Tidak perlu bagi kita untuk bermain-main dengan Kundalini dan mereka yang melakukannya hampir selalu melakukannya dengan motif egois seperti mencoba untuk memperoleh kekuatan psikis atau spiritual atau untuk dapat memiliki pengalaman spiritual yang luar biasa atau sensasi kebahagiaan untuk diri sendiri. Keinginan adalah penyebab dari semua penderitaan, seperti Sang Buddha yang selalu mengajarkan, keinginan untuk pengalaman spiritual sama-sama merugikan jiwa seperti keinginan untuk pengalaman sensual dan duniawi. Bahkan para psikiater kini mulai memperhatikan meningkatnya jumlah orang yang menjadi sakit parah mental, sering dengan skizofrenia atau kondisi yang sama, sebagai akibat dari mencoba untuk membangkitkan kundalini mereka. ”

Dalam Gupta Vidya atau Esoteric Doctrine, hanya kepada Kundalini yang lebih Tinggi, sebaiknya perhatian siswa diiarahkan. Kebanyakan orang akan mempertahankan pendapat bahwa hanya ada satu Kundalini dan bahwa itu berada di Muladhara Chakra di dasar tulang belakang. Oleh karena itu mereka berusaha untuk membangunkan dari posisi aktif dan laten yang ada dan membuatnya bangkit melalui semua chakra sampai ke puncak kepala.

Theosophy mengatakan sebaliknya. Buku H.P. Blavatsky “The Voice of the Silence” adalah terjemahan dari tiga teks – berjudul “The Voice of the Silence,” “The Two Paths,” dan “The Seven Portals” – yang bersumber dari kitab suci esoteris yang bernama “The Book of the Golden Precepts”, milik Sekolah esoteris Yogacharya, Sekolah Buddhism murni, yang dengannya para Master dari Trans-Himalaya Brotherhood terkait.

“The Voice of the Silence” mengajarkan bahwa itu adalah “ruang di dalam Hati” yang merupakan “tempat tinggal Ibu Dunia”, Kundalini, dan bukan di cakra dasar.

Adalah “dari hati Kekuatan [Kundalini] akan bangkit” dan bukan dari pusat yang lebih rendah dari itu. Kami dituntun untuk memahami bahwa ada korespondensi tertentu, yang tidak secara khusus tercetak, bahwa antara tujuh cakra atau “pusat energi” dalam tubuh astral (Lingga Sharira) dan Tujuh Prinsip dari konstitusi manusia. Tujuh kali lipat sifat dari manusia dibagi ke dalam Triad yang lebih Tinggi (Atma-Buddhi-Manas) dan Kuarter yang lebih rendah. (Kama-Prana-Lingga Sharira-sthula Sharira).

Semakin rendah Kundalini dan semakin rendah chakra, berhubungan dengan sifat penuh nafsu, psikis, sensual, insting hewani, serta keadaan alami kita yang berada di Kuarter yang lebih rendah. Dengan demikian menjadi jelas mengapa para Master memohon kepada Murid mereka agar tidak berhubungan dengan ini.

Kundalini yang lebih Tinggi adalah sesuatu yang bangkit dan muncul secara alami, aman, dan dengan sendirinya, saat kita mulai mengembangkan dan memiliki kemajuan dalam spiritualitas, kesadaran, pemahaman, disiplin diri, penguasaan diri, dan penyucian diri. Inilah sebabnya mengapa Bhavani Shankar mengatakan bahwa, “kekuatan elektro-spiritual yang disebut Kundalini adalah hasil pengembangan spiritual manusia dan tidak ada hubungannya dengan proses fisik dan mekanik.” Orang-orang yang tidak memahami yang berhasil dalam praktek yang terakhir cenderung untuk mengembangkan kemampuan clairvoyance psikis, seperti yang dikatakan, tapi ini bukan clairvoyance spiritual.

Sangat penting untuk memahami perbedaan yang besar antara kemampuan psikis dan spiritual.

Karena kita hanya tertarik pada Kundalini yang lebih Tinggi, yang akan bangkit dan muncul dengan sendirinya ketika kita telah cukup mengembangkan spiritualitas yang benar, ada sedikit kebutuhan bagi kita untuk mencurahkan banyak pikiran atau perhatian untuk itu, yang mungkin menjadi alasan utama mengapa subjek Kundalini sangat jarang dan singkat disebutkan dalam ajaran Theosophy. Tapi karena topik ini begitu populer saat ini dan begitu banyak orang yang tanpa disadari mengundang masalah serius dan bahaya pada diri mereka sendiri melalui praktek-praktek yang tidak bijaksana dan tidak aman, maka dianggap perlu untuk menempatkan artikel ini bersama-sama.

DARI “The Doctrine of Bhagavad Gita” – BAB 3

image

Cahaya Ishwara yang dikirimkan Gurudeva kepadanya pada saat inisiasi pertama, kini dengan jalan negasi dan pengabdian yang mendalam, telah berubah menjadi kekuatan elektro-spiritual yang disebut Kundalini yang lebih Tinggi, dan naik ke atas.

Kini naik dari jantung ke kepala dan membuat berfungsinya semua pusat spiritual yang ada di otak, dan melewati kepada apa yang disebut Shri Shankaracharya sebagai Dhi-Guha, gua intelek, yang merupakan ruang di antara alis, dan kemudian cahaya Buddhi menjadi kekuatan dinamis yang mengaktifkan kemampuan clairvoyance spiritual. Kemudian ia menggabungkan sang Dewi Agung, duduk di tengah Sahasrara yang menggembang penuh (seribu kelopak lotus).

Dan melalui pusat-pusat spiritual yang tinggi mulai menundukkan dan mengontrol Chakra yang lebih rendah.

Menurut buku Hindu Yoga, pusat Sahasrara Chakram ada di dalam otak. “Ini adalah tunas yang belum dibuka pada manusia biasa dan hanya ketika teratai membuka kelopaknya kemudian meluaskan dirinya serta mekar dalam keindahan, maka matahari terbit di atas cakrawala dapat memancarkan sinarnya pada sang bunga, demikian juga Sahasraram dari orang yang baru terbuka dan mengembang, itulah saat Ishwara mulai menuangkan ‘Hidupnya’ pada pusatnya. Ketika Sahashara sepenuhnya diperluas, ia menjadi kursi mulia dari Devi (Daivi-Prakriti), dan duduk di bunga ini Dewi Agung yang mencurahkan air kehidupan dan rahmat untuk kepuasan dan regenerasi jiwa manusia. ”

H.P.B. mengacu pada proses spiritual berikut ini dalam Voice of the Silence, “Janganlah ‘Surga-Mu,’ bergabung di laut Maya, istirahatlah dari Induk Universal (Jiwa), tapi biarkan kekuatan api beristirahat di ruang terdalam, ruang Hati dan tempat tinggal Ibu Dunia. Kemudian dari hati, Kekuatan itu akan naik ke yang keenam, wilayah tengah, tempat di antara matamu, ketika ia menjadi nafas dari SATU JIWA, suara yang memanggil semua, Suara Guru Mu. ”

Dalam catatannya pada kata-kata “kekuatan” dan “ibu dunia” di bagian atas dia mengatakan, “ini adalah nama-nama yang diberikan kepada Kundalini – salah satu kekuatan mistik yang diberikan kepada para Yogi. Pada kondisi ini Buddhi dianggap sebagai prinsip aktif dan bukannya pasif …. ” Jadi kekuatan elektro-spiritual yang disebut Kundalini adalah hasil pengembangan spiritual manusia dan tidak ada hubungannya dengan proses fisik dan mekanik.

Tapi ada Kundalini yang lebih Rendah, yang berada di Muladhara Chakra, di dasar tulang belakang, dimana para praktisi Hatha-yogi mencoba untuk membangkitkannya melalui tehnik Pranayama (pengendalian nafas). Ini adalah proses yang berbahaya dan tidak ada hubungannya dengan spiritualitas. Ada sekelompok guru yang melakukannya dengan rangsangan eksternal, seperti memandang kristal dan menfokuskaan perhatian serta tatapan pada Chakra di antara alis-mata, demi mendapatkan pengembangan clairvoyance, kemampuan melihat visi secara psikis, yang sebenarnya sangat berbeda dari clairvoyance spiritual. Ular kecil yang terlihat di Chakra oleh pandangan psikis ini, bukanlah kekuatan spiritual yang sebenarnya yang disebut Kundalini.

Kemampuan psikis yang dimilikinya dapat membuatnya melihat objek-objek yang berbeda di dalam dimensi yang lebih baik dari yang kita lihat di sini pada obyek dimensi fisik, tetapi di dalam dirinya tetap ada rasa keterpisahan yang sangat dalam, sama seperti yang dirasakan manusia biasa pada umumnya dan ia menonjolkan rasa keterpisahan ini dengan menetapkan dirinya yang palsu dan memandang kecil terhadap lingkungannya, serta berusaha untuk mendominasi mereka.

Ini adalah proses, yang merupakan kebalikan dari spiritualitas, seperti proyeksi ke yang lebih rendah dan palsu untuk yang lebih tinggi dan nyata. Para sage dan orang-orang suci sering mengajarkan, membedakan spiritualitas yang nyata dari metode-metode buatan, yang dilakukan oleh orang-orang yang haus kekuasaan dan Siddhi. Sage besar yang bijak Jnaneshwara dalam bukunya “Dwadashakshari (terkenal dengan; twelve syllabled mantra) Abhanga” mengatakan: “Kebangkitan ular dikarenakan kontrol dari sembilan gerbang dan melalui Sushumna, yang merupakan salah satu dari tiga nadi, adalah bukan ‘Jalan’. “Beliau berkata. “Sumber pembebasan adalah dalam kontemplasi tanpa henti dari Nara-Hari.”

Demikian pula Guru Machhendra mengajarkan kepada muridnya Gorakh, ketika mengatakan kepadanya kualifikasi nyata dari seorang Chela (Murid) : “Membangkitkan Kundalini dan memaksanya naik ke Brahmarandhra (mahkota kepala) dan dengan demikian memperoleh kekuatan untuk berjalan di atas air atau meramal masa depan, tidak merupakan bukti dari manusia spiritual – yang seperti itu tidak cocok menjadi Chela”.

Clairvoyance spiritual yang benar akan berkembang secara alami, bagaikan tunas yang mekar menjadi bunga pada saatnya. Saat itu adalah ketika visi pandangan dan rasa bercampur menjadi satu, dimana keterpisahan dari si pelihat, penglihatan dan objek yang dilihat, sudah tidak ada lagi. Ini adalah clairvoyance spiritual, seperti yang Shri Shankaracharya katakan pada sloka berikut di Aparokshanubhooti. “Visi harus difokuskan di sana di mana triad – pelihat, penglihatan dan yang dilihat, – lenyap, dan itu tidak berada pada dasar hidung (Agneya-chakra).”

Sebagai hasil dari harmonisasi pusat astral dengan pusat Adhidaiva, dasar dari semua devata, melalui Kundalini yang lebih Tinggi, ia melihat hierarki kecerdasan kosmik, para Deva, dan menyadari bahwa mereka dan dirinya sendiri pada dasarnya adalah satu makhluk – ekspresi dari satu kehidupan Ilahi, yang mengungkapkan Hakikat di semuanya dan dalam dirinya sendiri, melampaui semua itu dan tetap itu sendiri.

Dia kini telah memiliki Siddhi yang lebih tinggi, yang tidak dipengaruhi sesuatu di luar, tetapi merupakan pengetahuan di dalam batin tentang proses kosmik – perluasan Buddhi nya ke dalam Buddhi kosmik. Dengan kepemilikan semua Siddhi yang lebih tinggi ini, karakteristik yang dimiliki adalah kerendahan hati. Abhimana-nya, yang haus kekuasaan individu dan kemuliaan, telah lenyap. Karena itu ia disebut Kuteechaka, yang artinya, ia yang tinggal di sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari daun. Dia kini memiliki kekuatan yang memungkinkan dia untuk tampil sebagai bukan apa-apa di mata sesama manusia lain.

“Jadilah rendah hati, jika engkau belum mencapai Kebijaksanaan. Jadilah tetap rendah hati ketika Kebijaksanaan telah engkau kuasai”

(The Voice of the Silence)

image

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kriya Yoga, Kundalini, Theosophical Society dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s